Feeds:
Posts
Comments

Setelah ada beberapa komentar yang menanyakan tentang zakat untuk keluarga/saudara, berikut saya tuliskan kesimpulan saya setelah mencari informasi dari berbagai situs tentang zakat.

Allah Swt berfirman tentang siapa saja berhak menerima zakat sbb :
“Sesungguhnya sedekah-sedekah (zakat-zakat) itu hanyalah untuk orang¬orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang di bujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak. Orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah,dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. al-Taubah/9:60).

Dari penjelasan ayat di atas, jelaslah bahwa zakat hanya boleh didistribusikan kepada delapan asnâf (kelompok), yaitu :

  1. Fakir,
  2. Miskin,
  3. Amil,
  4. Muallaf,
  5. ar-riqâb (budak),
  6. al-ghârimin (orang yang berhutang),
  7. Fi Sabilillah,
  8. Ibnu sabil.

Mereka yang bukan berada dibawah tangggungan si pemberi zakat,  jika memenuhi syarat fakir atau miskin mereka berhak mendapatkan zakat dari harta Bapak. Menurut Prof. Dr. M. Amin Suma pemberian harta kepada saudara tersebut tergantung pada niatnya. Jika diniatkan zakat bisa dikatakan sebagai zakat. Tetapi jika diniatkan infaq, statusnya sebagai infaq.

Adapun keluarga yang tidak boleh menerima zakat yaitu mereka yang berada dalam tanggungan pemberi zakat. Ulama menjelaskan ada kategori siapa saja orang-orang yang tidak boleh menerima zakat di antaranya bapak, ibu atau kakek, nenek hingga ke atas atau anak-anak hingga ke bawah atau isteri dari orang yang mengeluarkan zakat, karena nafkah mereka di bawah tanggung jawab kita sebagai anak/menantu. Rasulullah Saw bersabda: “Kamu dan hartamu itu untuk ayahmu” (HR. Ahmad dari Anas bin Syu’aib) Dr. Yusuf Qardhawi menjelaskan dalam kitabnya “Fiqhu az-Zakat” pemberian zakat kepada kerabat yang tidak wajib bagi orang yang berzakat memberi nafkah kepadanya, maka tidak berdosa memberi kepadanya zakat.

Jadi, diperbolehkan menyalurkan zakat kepada kerabat yang bukan tanggungan langsung dari pemberi zakat seperti saudara laki-laki, saudara perempuan, paman dan bibi dengan syarat mereka dalam keadaan membutuhkan (fakir atau miskin). Setiap muslim hendaknya berhati-hati dalam menyalurkan zakatnya dan berusaha sesuai dengan anjuran syari’at Islam agar zakatnya sampai pada yang berhak.

Firman Allah SWT, “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan.” (Al Isra’: 26) “…Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya…” [Al Baqarah:177]

Dengan demikian, zakat sangat dianjurkan diberikan kepada keluarga yang bukan menjadi tanggungan bagi muzakki. Kewajiban kita untuk membantu saudara sendiri kepada mereka yang sedang kekurangan. Islam memerintahkan untuk membantu sesama manusia terutama yang terdekat.

Semoga bermanfaat.

 

Satu Jam

Suatu hari seorang anak kecil datang kepada ayahnya dan bertanya :

”Apakah kita bisa hidup tidak berbuat berdosa atau kesalahan selama hidup kita…?“

Ayahnya memandang kepada anak kecil itu dan berkata :
”Tidak, nak…itu hal yg mustahil… “

Putri kecil ini kemudian memandang ayahnya dan berkata lagi…

”Apakah kita bisa hidup tanpa berdosa dalam setahun…?”

Ayahnya kembali menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum kepada putrinya…tidak wahai putri kecilku…

”Oh ayah, bagaimana kalau 1 bulan, apakah kita bisa hidup tanpa melakukan kesalahan?”

Ayahnya tertawa…
”Mungkin tidak bisa juga, nak…”

”OK… ayah, ini yang terakhir kali…

Apakah kita bisa hidup tidak berdosa dalam 1 jam saja…?”
Akhirnya ayahnya mengangguk…
“Kemungkinan besar, bisa nak…”

Anak ini tersenyum lega…dan berujar:

”Jika demikian, aku akan hidup benar dari jam ke jam, ayah…

Lebih mudah menjalaninya, dan aku akan menjaganya dari jam ke jam, sehingga aku dapat hidup dengan benar… “

Pernyataan ini mengandung kebenaran sejati… Marilah kita hidup dari waktu ke waktu, dengan memperhatikan cara kita menjalani hidup ini…

Dari latihan yang paling kecil dan sederhana sekalipun…
Akan menjadikan kita terbiasa…(kebiasaan)

Dan apa yang sudah biasa kita lakukan akan menjadi sifat…

Dan sifat akan berubah jadi karakter… dan karakter inilah yg menjadi ‘nasib kita’…

Semoga kita dapat mengambil ‘ibrah, pelajaran’ dan dpt mengamalkannya. Amin x 3 yaa rabbal’alamin.

Draft KKNI Pendidikan

Draft KKNI Pendidikan

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional sedang menyusun Kerangka kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) atau dikenal dengan Indonesian Qualification Framework (IQF)

KKNI adalah kerangka kualifikasi yang disepakati secara nasional, disusun berdasarkan suatu ukuran pencapaian proses pendidikan sebagai basis pengakuan terhadap hasil pendidikan seseorang (biak yang diperoleh secara formal, non formal, in formal, atau otodidak)

Secara ringkas KKNI ini terdiri dari sembilan level kualifikasi akademik SDM Indonesia dan akan diresmikan dengan Peraturan Presiden. Ditargetkan Dokumen Peraturan Presidennya sudah masuk ke Sekretaris Negara pada akhir Januari 2010.

Saat ini Draft 9 level deskriptor kualifikasi SDM Indonesia sudah selesai disusun. Bersama Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans) sedang dibahas point demi pointnya termasuk penyelarasan pasal demi pasalnya

Dengan adanya KKNI ini menurut Dirjen akan mengubah cara melihat kompetensi seseorang, tidak lagi semata dari Ijazah tapi dengan melihat kepada kerangka kualifikasi yang disepakati secara nasional sebagai dasar pengakuan terhadap hasil pendidikan seseorang secara luas (formal, non formal, in formal atau otodidak) yang akuntabel dan transparan.

Dengan adanya KKNI ini juga akan terjadi beberapa hal misalnya adanya proses Recognition of Prior Learning.

KKNI akan membangun kesadaran mutu para penyelenggara pendidikan di Indonesia untuk menghasilkan kualitas SDM yang sesuai dengan deskriptor kualifikasi. Ini juga akan membuat fondasi pengakuan, akses, kolaborasi sumber daya manusia kita di dunia Internasional dan pada gilirannya akan meningkatkan daya saing bangsa. KKNI juga mendorong terbangunnya country education profile dengan data yang komprehensif

Sumber: http://www.dikti.go.id, 05 January 2010

Oleh: Hamdan Juhannis (Guru Besar Ilmu Sosiologi UIN Alaudin, Mataram; Anggota Dewan Indonesian Public Integrity Education Network)

Pada waktu ujian semester Mata Kuliah Sosiologi di sebuah kelas S1 UIN Alaudin beberapa hari lalu, saya datang memberi ujian sendiri. Ketua kelas meminta para mahasiswa mengatur kursinya secara berjarak. Namun saya memotongnya bahwa mereka tidak perlu melakukan itu. Saya mengatakan, “Kalian duduk seperti biasanya.” Saya bercanda: “Kalau mau lebih mepet lagi, silakan Anda lakukan,” yang disambut tawa oleh para mahasiswa.

Sebelum saya membagikan soal ujian, saya memberi sebuah pengantar yang bunyinya seperti ini: “Hari ini, saya ingin sejarah di ruangan ini tercipta, yaitu ujian tanpa ada perilaku menyontek. Menyontek adalah perilaku dalam dunia pendidikan yang berkontribusi terhadap munculnya orang terdidik yang tidak memiliki integritas. Orang yang tidak punya integritas itulah yang menggerogoti sendi kehidupan, khususnya perilaku korupsi dan kebohongan publik yang akarnya dari kebiasaan menyontek. Apakah Anda sadar bahwa lembaga pendidikan tinggi yang menjadi muara pendidikan, melahirkan penyelenggara negara yang korup. Buktinya , mereka yang menjadi koruptor semua mempunyai gelar akademik.”

Lalu saya melanjutkan : “Apakah Anda ingin sejarah tercipta bahwa hari ini menjadi upaya awal Anda membangun tradisi hidup bersih yang dimulai di ruangan ini dengan mengikuti ujian tanpa perilaku menyontek? Olehnya saya membiarkan Anda duduk berdempetan, karena saya ingin melihat bahwa cerita tentang anak didik di negara-negara dengan pemerintahan bersih yang memang tidak mempunyai tradisi meyontek dalam ujian, juga sebenarnya bisa dipraktikkan dalam hidup kita. Peluang bahwa sejarah akan Anda lahirkan sendiri, sama persis peluangnya Anda akan menguburnya begitu dalam dan saat ini momentum untuk membuktikannya.”

“Saya hanya akan mengamati Anda sejak menancapkan pulpen untuk mejawab pertanyaan sampai Anda kumpulkan kertas jawaban Anda. Karena nilai kesejarahannya jauh lebih bermakna daripada menegur Anda menyontek atau membuka buku, lalu memberi angka rata-rata maksimal karena pekerjaan Anda baik. Saya lebih tertarik untuk menulisnya di buku harian saya atau di tulisan-tulisan saya, atau membicarakan di ceramah saya bahwa ada bukti generasi kita punya potensi untuk mengurus negara ini tanpa perilaku kebohongan. : Saya menutupnya dengan menyatakan: “Semua terserah Anda dan selamat menjawab soal ujian.”

Lalu kertas ujian dibagi oleh ketua kelas, dan ujian berlangsung selama dua jam. Setelah ujian selesai dan mereka mengumpulkannya, saya memberi komentar lagi: “Terima kasih Anda melakukan ujian yang sangat luar biasa. Kalau saya ingin memberi persentase, tentu tidak sampai 100 persen bersih karena tadi satu kali saya melihat seorang mahasiswa melihat pekerjaan temannya. Tapi sejujurnya, inilah ujian terbersih yang pernah saya lihat di negeri ini di mana para mahasiswanya duduk berdempetan, nyaris tanpa perilaku menyontek sama sekali.” Lalu saya bertanya kepada mereka: “Pernahkan Anda melakukan ujian duduk secara berdempetan? Mereka menjawab : “Pernah.” Saya bertanya apa yang terjadi dan mereka menjawab hampir semua menyontek. Lalu saya meminta mengangkat tangan bagi siapa di ruangan ini yang tidak pernah menyontek dan tidak ada sautupun yang mengangkat tangannya.

Saya lalu menyatakan bahwa saya yakin tidak akan ada yang berani mengangkat tangannya, termasuk saya sendiri karena pada dasarnya kita dibesarkan dengan tradisi kebohongan yang salah satu variannya adalah menyontek. Dunia pendidikan kita mengambil bagian kebohongan itu dengan memelihara tradisi menyontek. Luaran lembaga pendidikan dengan tradisi menyontek itulah yang mempraktikkan varian kebohongan lain yang disebut korupsi ketika mereka menjadi penyelenggara negara.

Saya menambahkan : “Anda tahu dunia pendidikan kita menolerir praktik-praktik kebohongan dengan berbagai modus untuk mengangkat citra pendidikan dengan angka atau catatan hitam di atas putih. Lalu pendidikan kita mengabaikan sisi fundamental dari makna pendidikan itu sendiri yang lebih dari angka yaitu mengasah nilai kemanusiaan, yaitu integritas publik. Apa artinya tingkat kelulusan tinggi bila itu ternyata menyuburkan bibit kebohongan.

Makna semua ini bahwa dunia pendidikan kita bertanggung jawab terhadap persoalan kebangsaan kita dengan menjamurnya praktik korupsi atau dengan bahasa yang lebih lugas dunia pendidikan kita menjadi supplier koruptor.”

Saya menutup pertemuan ujian semester itu dengan menyatakan : “Apa yang baru saja Anda lakukan adalah contoh upaya kita untuk memutar balik jarum jam tradisi kebohongan yang sudah mengkristal dalam tradisi hidup kita yang dilakukan di sebuah ruangan perguruan tinggi. Saya tentu tidak menjamin bahwa apakah Anda melakukan ujian secara bersih karena semata termakan secara sementara oleh doktrin saya, tapi mudah-mudahan Anda melakukannya karena diawali oleh rasa prihatin betapa komentar-komentar saya mengena pada dunia pendidikan kita termasuk pada diri Anda semua.

Bila itu terjadi, Anda sebenarnya melakukan upaya kerja laksana Anda memutar balik jarum jam kebohongan yang begitu kencangnya berputar di sekitar Anda.”

“Inilah esensi pelajaran Sosiologi yang Anda pelajari satu semester, sebuah ilmu kemasyarakatan mencermati problema sosial termasuk perilaku kebohongan publik, Anda perlu dibekali ilmu itu bukan hanya sebatas memiliki wawasan, tetapi bagaimana wawasan sosiologis itu berproses menjadi bagian tak terpisahkan dari nurani Anda ketika berbuat, terkhusus ketika Anda suatu saat menjadi penyelenggara negara. Ini harus selalu diasah dan yang baru saja Anda lakukan dengan ujian tanpa menyontek adalah sebuah momentum asahan.â€

Saya menyatakan kalimat kunci : “Sebagai mahasiswa Anda berkontribusi saja terhadap upaya menghilangkan tradisi menyontek di kampus, saya anggap sudah lebih dari cukup dan itu patut diapresiasi.” Seorang mahasiswa bertanya: “Apa bonusnya pak” dan semua mahasiswa tertawa keras. “Saya tidak akan memberi Anda bonus atas perilaku kebersihan ujian Anda dengan memberi angka bagus, karena itu pemberian terima kasih yang bisa saja tidak layak. Itu bentuk lain dari kebohongan yang disebut dengan gratifikasi.” Jawab saya yang disambut tawa lebih keras lagi oleh mahasiswa sambil mengangguk-angguk.

Saya menyatakan bahwa bonus mereka adalah kepuasan batin-spiritualistik yang tak ternilai, melebihi kepuasan angka-angka yang berbau lahir-materialistik semata, yang menjadi ciri kepuasan bagi para koruptor dan pembohong. (*)

Mengintip Gaji Presiden

Singapore president Mr Lee

Jakarta – Ini masih soal gaji presiden dan para pemimpin negara di dunia. Majalah The Economistedisi 6 Juli 2010 sering jadi rujukan dalam isu itu. Majalah ini membandingkan gaji pemimpin dibandingkan dengan pendapatan perkapita negeri tersebut. Hasilnya, Perdana Menteri (PM) Singapura Lee Hsien Loong menempati posisi nomor satu.

PM Singapura Lee Hsien Loong mendapatkan gaji US$ 2,18 juta atau setara Rp 19,8 miliar per tahun. Gaji Loong ini 5 kali lipat dari gaji Presiden AS Barack Obama, yang sebesar US$ 400 ribu atau Rp 3,6 miliar per tahun.

Gaji Loong ini sekitar 40 kali dari pendapatan per kapita Singapura. Hal yang sangat ‘wow’ mengingat gaji terbesar pemimpin negara itu berasal dari negara yang terkecil di dunia, yang hanya seluas 700 km persegi. Pendapatan rata-rata warga Singapura adalah US$ 2.400 per bulan atau Rp 21,8 juta, sehingga rata-rata pendapatan per kapita Singapura adalah Rp 262 juta.

Sedangkan pendapatan PM India Manmohan Singh tercatat yang terendah, yaitu US$ 4.106 atau Rp 37,3 juta per tahun. Gaji Singh ini sekitar 2 kali dari pendapatan per kapita India. Padahal India adalah negara ketujuh terbesar di dunia.

Sementara negara yang sangat ironis, yaitu Kenya, mengusulkan gaji PM Raila Odinga naik menjadi US$ 428 ribu atau setara Rp 3,9 miliar per tahun. Lebih tinggi dari gaji Presiden AS Barack Obama yang US$ 400 ribu atau Rp 3,6 miliar per tahun.

Gaji Odinga ini merupakan usulan dari parlemen. Sementara anggota parlemen sendiri menaikkan gaji tahunan mereka 25 persen menjadi US$ 161 ribu atau setara Rp 1,5 miliar. Odinga sudah menolak usulan parlemennya ini.

Bagaimana dengan Presiden Republik Indonesia (RI) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)? Versi The Economist ini, gaji SBY sebesar US$ 124.171 atau sekitar Rp 1,1 miliar per tahun. Gaji SBY ini sekitar 28 kali lipat dari pendapatan per kapita Indonesia.

Data ini berbeda dari rilis jubir Istana Kepresidenan pada 1 Januari 2006 dari www.presidensby.info. Di situ disebutkan Presiden menerima gaji dan tunjangan sebesar Rp 62.497.800 per bulan. Kalau dihitung per tahun gaji SBY mencapai Rp 749,9 juta atau US$ 82,3 ribu.

Berikut peringkat gaji per tahun pemimpin negara di dunia, dari yang tertinggi sampai terendah, dari The Economist:

1. Singapura US$ 2,18 juta atau setara Rp 19,8 miliar (40 kali pendapatan per kapita)
2. Hong Kong US$ 513 ribu atau sekitar Rp 4,7 miliar (20 kali pendapatan per kapita)
3. Kenya US$ 423 ribu atau setara Rp 2,9 miliar (240 kali pendapatan per kapita)
4. AS US$ 400 ribu atau setara Rp 3,6 miliar (8 kali pendapatan per kapita)
5. Prancis US$ 302 ribu atau sekitar Rp 2,7 miliar (9 kali pendapatan per kapita)
6. Kanada US$ 296 ribu atau sekitar Rp 2,6 miliar (7 kali pendapatan per kapita)
7. Irlandia US$ 287 ribu atau sekitar Rp 2,6 miliar (5 kali pendapatan per kapita)
8. Australia US$ 286 ribu atau sekitar Rp 2,6 miliar (5 kali pendapatan per kapita)
9. Jerman US$ 283 ribu atau sekitar Rp 2,5 miliar (8 kali pendapatan per kapita)
10. Jepang US$ 273 ribu atau sekitar Rp 2,4 miliar (8 kali pendapatan per kapita)
11. Afrika Selatan US$ 272 ribu atau sekitar Rp 2,4 miliar (26 kali pendapatan per kapita)
12. Selandia Baru US$ 271 ribu atau sekitar Rp 2,4 miliar (10 kali pendapatan per kapita)
13. Inggris US$ 215 ribu atau setara Rp 1,9 miliar (7 kali pendapatan per kapita)
14. Taiwan US$ 184 ribu atu sekitar Rp 1,6 miliar (7 kali pendapatan per kapita)
15. Korea Selatan US$ 136 ribu atau sekitar Rp 1,2 miliar (9 kali pendapatan per kapita)
16. Indonesia US$ 124 ribu atau sekitar Rp 1,1 miliar (28 kali pendapatan per kapita)
17. Israel US$ 120 ribu atau sekitar Rp 1 miliar (4 kali pendapatan per kapita)
18. Rusia US$ 115 ribu atau sekitar Rp 1 miliar (7 kali pendapatan per kapita)
19. Argentina US$ 74 ribu atau setara Rp 674 juta (5 kali pendapatan per kapita)
20. Polandia US$ 45 ribu atau setara Rp 409 juta (3 kali pendapatan per kapita)
21. China US$ 10 ribu atau sekitar Rp 96 juta (2 kali pendapatan per kapita)
22. India US$ 4 ribu atau sekiitar Rp Rp 37,3 juta (2 kali pendapatan per kapita).

[Source: detik.com 22 Januari 2011]

 

Although Windows by default optimize for quick removal on Write Caching and Safe Removal policies, there are times I’ve noticed when I tried to stop the plugged in USB flash drive device at Safely Remove Hardware, it says “The device cannot be stopped right now. Try stopping the device again later.” If I forcefully unplug my USB flash drive that time, I risk my files getting corrupted. So never trust the “Optimize for quick removal” setting!

There are times that the Safely Remove Hardware Icon is missing or disappeared from the try bar. In Windows Safe Mode, you can’t find the Safely Remove Hardware icon at all! Is shutting down the computer the only way to safely stop and unplug your USB devices? Fortunately not. Here are some ways you can bring back the Safely Remove Hardware window when the icon is missing.

First of all, make sure that the Safely Remove Hardware icon is not set as “Always Hide“.

The manual way of bringing back the Safely Remove Hardware window is by running a command. Go to Start, Run, type in the following line and click OK. The command below is case sensitive.

rundll32 shell32.dll,Control_RunDLL hotplug.dll

In restaurants in most Europe country, the custom is that anything brought to the table that you didn’t order is complimentary. For example, after you place your order, the waiter returns to your table with a basket of bread. The bread is provided at no extra charge. These complimentary items are usually small, like some bread or a one-bite appetizer. (If anything bigger is brought to the table that you didn’t request, it is customary to ask the waiter, “Is this ours?” just to make sure it wasn’t delivered to the wrong table by mistake.)

couvert exampleIn Portugal, the custom is that these items (known as couvert) are brought to your table as a convenience so you don’t have to order them, but you still have to pay for them if you eat them. Again, they are typically small items like bread or a small plate of olives. It took me a while to adjust to the Portuguese custom, and I would absently start eating them before realizing that they weren’t complimentary. Fortunately, the mistake is not costly; these couvert items usually cost only about one Euro, two tops, and they are things you usually wouldn’t have minded ordering anyway.

Below is a post in “http://www.virtualtourist.com/travel/Europe/Portugal/Tourist_Traps-Portugal-R-1.html”

Couvert was the reason for a strong controversy in Portugal, forcing the government to publish specific regulation, but it keeps originating some confusion. A few months ago someone alerted in VT for the risks of being charged “couvert” and another VTer showed her surprise, because “we are supposed to pay what we eat”. Let´s clarify it:

Many years ago, some restaurants decided to offer their costumers small dishes with starters, to calm the client while the ordered meal was prepared. Those starters where not listed and not charged (of course, the meal’s price would largely cover it). That “gentleness” was well received, and the use spread, even to restaurants whose price policy couldn’t allow “the offer” and they started to charge it.

That was the beginning of the controversy:
“Why should I pay something I didn’t order?”

But things got worse, with restaurants charging “couvert” for… nothing. It was a sort of tax for sitting at the table.

That was the time when the government interfered and produced the actual legislation.

What should you expect now?

Charging “couvert” is illegal. If someone puts something in your table that you didn’t order, you don’t have to consume (or pay) it, and may leave it untouched or ask the waiter to take it back.

Though the best keep “offering” some starters, you may expect to be charged for the articles that you started to eat, and only those (eating one olive means paying the whole dish, of course), if their price was listed in the menu.

The strongest risk now, is that some restaurants try to charge everything that they brought to table, even the untouched items. that’s illegal!

PS Another common practice is the offering of a “gentleness” at the end of your meal – there’s no risk in that, except for your health (and police control, if you’re driving)

2010 Top Brand

Source: http://news.cnet.com/8301-1001_3-20003629-92.html

life learning

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.

Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah.

Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri.

Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri.

Jika anak dibesarkan dengan iri hati, ia belajar kedengkian.

Jika anak dibesarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah.

Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.

Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.

Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.

Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar mencintai.

Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri.

Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan.

Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, ia belajar kedermawanan.

Jika anak dibesarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar kebenaran dan keadilan.

Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan.

Jika anak dibesarkan dengan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

Jika anak dibesarkan dengan ketentraman, ia belajar berdamai dengan pikiran.

Mengalir Air Kehidupan

Seorang pria mendatangi Sang Master, “Guru, saya sudah bosan hidup. Sudah jenuh betul. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin mati.“
Sang Master tersenyum, “Oh, kamu sakit.“
“Tidak Master, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati.“

Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Master meneruskan, “Kamu sakit. Dan penyakitmu itu sebutannya, ‘Alergi Hidup’. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan.“ Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan.
Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan mengalir terus, tetapi
kita menginginkan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak
ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang
penyakit. Resistensi kita, penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit. Yang namanya usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam hal berumah-tangga, bentrokan-bentrokan kecil itu memang wajar, lumrah. Persahabatan pun tidak selalu langgeng, tidak abadi. Apa sih yang langgeng, yang abadi dalam hidup ini? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita.

“Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan
bersedia mengikuti petunjukku.“ demikian sang Master.
“Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup.“ pria itu menolak tawaran sang guru.
“Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?“
“Ya, memang saya sudah bosan hidup.“
“Baik, besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini. Setengah botol diminum malam ini, setengah botol lagi besok sore jam enam, dan jam delapan malam kau akan mati dengan tenang.“

Giliran dia menjadi bingung. Setiap Master yang ia datangi selama
ini selalu berupaya untuk memberikannya semangat untuk hidup. Yang satu ini aneh. Ia bahkan menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.

Pulang kerumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut “obat“ oleh Master edan itu. Dan, ia merasakan ketenangan sebagaimana tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai! Tinggal 1 malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah.

Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran Jepang. Sesuatu yang sudah tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Pikir-pikir malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya santai banget! Sebelum tidur, ia mencium bibir istrinya dan membisiki di kupingnya, “Sayang, aku mencintaimu.“ Karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis!

Esoknya bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar.Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Pulang kerumah setengah jam kemudian, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Sang istripun merasa aneh sekali, “Sayang, apa yang terjadi hari ini? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku, sayang.“

Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang.
Stafnya pun bingung, “Hari ini, Boss kita kok aneh ya?“ Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan apresiatif terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.

Pulang kerumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, “Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu.“ Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, “Pi, maafkan kami semua. Selama ini, Papi selalu stres karena perilaku kami.“

Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup
menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri.
Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya?

Ia mendatangi sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya sang Guru langsung mengetahui apa yang telah terjadi,
“Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh,
Apabila kau hidup dalam kekinian,
apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan.
Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan.
Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan.
Kau akan merasa hidup.
Itulah rahasia kehidupan.
Itulah kunci kebahagiaan.
Itulah jalan menuju ketenangan.“

Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu
pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya.
Konon, ia masih mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam kekinian.
Itulah sebabnya, ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu HIDUP!

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.